LIPUTANMEDIA – Presiden Iran Masoud Pezeshkian balas Trump dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan Amerika Serikat (AS). Pernyataan itu disampaikan di New York pada Rabu, 23 September 2026, sehari setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Washington dapat menghancurkan Republik Islam Iran jika tidak tercapai kesepakatan.
Pezeshkian menyampaikan sikap tersebut dalam pidato yang berlangsung ketika konflik antara Iran dan AS masih menjadi salah satu perhatian utama dalam Sidang Umum PBB ke-81. Dalam forum internasional itu, Presiden Iran mengatakan tekanan, sanksi, dan ancaman tidak akan membuat rakyat Iran menyerah.
Ia juga menyinggung situasi di Selat Hormuz yang menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik tersebut. Menurut Pezeshkian, Iran tidak dapat menerima penggunaan jalur perairan itu untuk kegiatan yang dianggap mengancam keamanan negaranya.
Namun, di tengah pernyataan keras tersebut, Pezeshkian juga menyampaikan bahwa Iran tetap membuka ruang bagi dialog dan diplomasi. Ia menekankan bahwa pembicaraan harus dilakukan tanpa ancaman dan tekanan.
Pezeshkian Tegaskan Iran Tidak Akan Menyerah
Dalam pidatonya di hadapan negara-negara anggota PBB, Pezeshkian menyampaikan pesan langsung kepada pemerintahan Trump. Ia mengatakan tekanan terhadap Iran justru dapat memperkuat perlawanan rakyat.
Menurut Pezeshkian, Iran telah menghadapi berbagai bentuk tekanan, mulai dari sanksi ekonomi hingga ancaman militer. Karena itu, ia menyatakan pemerintahannya tidak akan mengubah sikap hanya karena mendapat intimidasi dari negara lain.
“Perlawanan rakyat Iran justru akan semakin menguat” dalam menghadapi sanksi, tekanan, dan intimidasi, kata Pezeshkian sebagaimana dikutip sejumlah media internasional.
Ia kemudian menegaskan bahwa Iran tidak akan menundukkan kepala atau bertekuk lutut.
Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dari pidato Pezeshkian karena disampaikan hanya sehari setelah Trump menggunakan podium yang sama untuk menyampaikan ancaman keras terhadap Tehran.
Pidato kedua pemimpin tersebut memperlihatkan adanya perbedaan tajam dalam pendekatan terhadap konflik. Trump menempatkan pilihan antara kesepakatan dan penghancuran Republik Islam, sementara Pezeshkian menekankan bahwa ancaman tidak akan memaksa Iran menyerah.
Meski demikian, pernyataan Pezeshkian tidak hanya berisi penolakan terhadap tekanan AS. Presiden Iran juga menyampaikan sejumlah pesan mengenai kemungkinan diplomasi dan pengaturan keamanan kawasan.
Pernyataan Pezeshkian Disampaikan Sehari Setelah Trump
Pernyataan Pezeshkian tidak dapat dipisahkan dari pidato Trump di PBB sehari sebelumnya.
Pada Selasa, 22 September 2026, Trump menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB dan mengatakan dirinya menghadapi keputusan besar terkait Iran. Ia menggambarkan dua kemungkinan, yakni tercapainya kesepakatan yang memungkinkan Iran membangun kembali negaranya atau tindakan untuk menghancurkan Republik Islam.
Trump juga menyerukan negara-negara lain untuk membantu memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran. Dalam pidatonya, presiden AS meminta negara-negara lain menerapkan isolasi ekonomi terhadap Tehran.
Trump mengatakan tujuan kebijakan tersebut antara lain mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Ia juga menyatakan konflik pada akhirnya dapat diselesaikan melalui kesepakatan.
Pernyataan Trump mendapat perhatian luas karena disampaikan ketika perang telah berlangsung berbulan-bulan dan berdampak terhadap keamanan kawasan serta jalur perdagangan energi.
Sehari setelah pidato tersebut, Pezeshkian tampil di podium PBB. Ia memberikan tanggapan dengan menolak gagasan bahwa Iran dapat dipaksa tunduk melalui tekanan militer atau ekonomi.
Situasi tersebut membuat dua pidato di PBB menjadi bagian dari perkembangan diplomatik yang lebih luas antara Washington dan Tehran.
Trump Bicara Tentang Pilihan Besar terhadap Iran
Dalam pidatonya, Trump mengatakan pemerintahannya harus menentukan apakah akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau mengambil tindakan lebih keras.
Trump menyampaikan pertanyaan mengenai apakah Iran akan memperoleh kesempatan untuk membangun kembali negaranya setelah kesepakatan tercapai. Di sisi lain, ia juga mempertanyakan apakah Republik Islam harus dihancurkan dengan cepat.
Pernyataan itu kemudian menjadi salah satu bagian paling banyak disorot dari pidato Trump.
Reuters melaporkan Trump memperingatkan Iran bahwa Washington dapat “annihilate” atau menghancurkan Republik Islam jika kesepakatan tidak tercapai. Trump juga mengaitkan kebijakan tersebut dengan tujuan mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Trump juga mengatakan dirinya tidak menganggap tekanan politik dalam negeri sebagai faktor dalam keputusan mengenai perang tersebut. Ia menyebut pemilihan umum sela AS tidak akan menentukan kebijakan terhadap Iran.
Pada saat yang sama, terdapat perkembangan diplomatik. Pejabat AS dan Iran dilaporkan kembali melakukan pembicaraan di sela-sela Sidang Umum PBB.
Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa ancaman dan diplomasi berjalan secara bersamaan. Di satu sisi, kedua pemerintah menggunakan bahasa keras di hadapan publik. Di sisi lain, saluran komunikasi masih terbuka melalui perundingan tidak langsung.
Iran Tetap Membuka Ruang Diplomasi
Meskipun memberikan pernyataan tegas mengenai sikap Iran, Pezeshkian tidak menutup pintu diplomasi.
Dalam pidatonya, ia mengatakan Iran siap berdialog, melakukan diplomasi, dan bernegosiasi. Namun, ia menekankan bahwa proses tersebut tidak dapat dilakukan dengan bahasa kekuatan.
Reuters melaporkan Pezeshkian mengatakan Iran tidak akan menyerah, tetapi tetap percaya bahwa konflik dapat diakhiri melalui diplomasi.
Pesan tersebut juga dilaporkan oleh The Guardian. Menurut laporan tersebut, Pezeshkian menyatakan Iran siap berdialog dan bernegosiasi selama prosesnya tidak disertai ancaman atau penggunaan kekuatan sebagai tekanan.
Sikap ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa pernyataan keras Tehran tidak secara otomatis berarti Iran menutup semua kemungkinan perundingan.
Pemerintah Iran tetap menyampaikan sejumlah tuntutan yang dianggap perlu dipenuhi sebelum proses diplomatik dapat bergerak lebih jauh.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah penghentian perang, tindakan militer AS, blokade laut, serta tekanan ekonomi terhadap Iran.
Dengan demikian, pidato Pezeshkian memiliki dua sisi. Pertama, penegasan bahwa Iran tidak akan tunduk terhadap ancaman. Kedua, penegasan bahwa jalur diplomasi masih tersedia.
Selat Hormuz Menjadi Bagian Penting Pidato
Selain merespons Trump, Pezeshkian memberikan perhatian khusus kepada Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan jalur perairan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi jalur penting bagi lalu lintas energi internasional.
Dalam situasi konflik, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut mengalami gangguan. AP melaporkan pada 23 September 2026 bahwa sebuah kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz kembali terkena proyektil, menambah kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di jalur tersebut.
Pezeshkian mengatakan Iran tidak dapat membiarkan pihak tertentu menggunakan jalur tersebut secara bebas apabila jalur yang sama digunakan untuk melakukan tindakan yang menurut Tehran merupakan agresi terhadap Iran.
Menurut Presiden Iran, terdapat persoalan mengenai akses dan keamanan jalur perairan tersebut. Ia menyatakan Iran tidak bisa menerima kondisi ketika pihak lain dapat menggunakan jalur itu untuk kepentingan tertentu sekaligus menggunakannya sebagai bagian dari tekanan terhadap Iran.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Selat Hormuz bukan hanya persoalan perdagangan bagi Tehran. Jalur tersebut juga berkaitan langsung dengan keamanan nasional Iran.
Karena itu, pembahasan mengenai masa depan Selat Hormuz diperkirakan menjadi bagian penting dalam setiap proses diplomasi yang berkaitan dengan konflik.
Iran Tidak Ingin Tetangga Menjadi Saingan
Pezeshkian juga membawa pesan kepada negara-negara Arab dan negara tetangga Iran.
Ia mengatakan Iran tidak memandang negara-negara tetangganya sebagai pesaing dalam hal keamanan. Sebaliknya, Tehran disebut terbuka terhadap kerja sama untuk menciptakan keamanan kawasan.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pendekatan Iran untuk membangun dukungan regional di tengah konflik dengan AS.
Menurut laporan The Guardian, Pezeshkian berulang kali menekankan bahwa keamanan kawasan seharusnya dibangun oleh negara-negara yang berada di kawasan tersebut, bukan sepenuhnya ditentukan oleh kekuatan eksternal.
Pandangan tersebut berkaitan erat dengan posisi Iran mengenai Selat Hormuz.
Tehran berkepentingan memastikan bahwa negara-negara Teluk tidak melihat Iran hanya sebagai ancaman. Iran juga ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki kepentingan keamanan yang sama dengan negara-negara tetangganya.
Pezeshkian menyampaikan bahwa Iran bersedia bekerja sama untuk menciptakan keamanan di kawasan.
Namun, kerja sama tersebut memiliki batas yang jelas dalam pernyataannya. Iran tidak ingin jalur perairannya digunakan untuk kegiatan yang menurut pemerintah Iran dapat membahayakan negara tersebut.
Selat Hormuz dan Kepentingan Energi Dunia
Persoalan Selat Hormuz memiliki dampak yang lebih luas daripada hubungan Iran dan AS.
Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi pengiriman energi dari kawasan Teluk. Ketika keamanan pelayaran terganggu, perusahaan energi, negara pengimpor, dan pasar global dapat terkena dampaknya.
Konflik Iran dan AS telah menimbulkan kekhawatiran terhadap arus energi dan harga minyak. Reuters melaporkan bahwa Trump dalam pidatonya juga menyerukan negara-negara lain untuk membantu mengisolasi Iran secara ekonomi dan mengaitkan stabilitas konflik dengan harga energi.
The Guardian juga melaporkan bahwa pembatasan lalu lintas melalui Selat Hormuz telah memberikan tekanan terhadap pasar energi global.
Karena itu, setiap pernyataan Tehran mengenai pembukaan atau pembatasan akses Selat Hormuz memiliki arti penting bagi negara lain.
Bagi Iran, persoalan tersebut terkait dengan keamanan dan kepentingan nasional. Bagi banyak negara lain, jalur tersebut berhubungan dengan kelancaran perdagangan energi.
Inilah yang membuat Selat Hormuz menjadi salah satu isu paling rumit dalam konflik.
Setiap perubahan situasi di kawasan tersebut dapat berdampak jauh di luar Timur Tengah.
Pertemuan AS dan Iran Juga Berlangsung
Di tengah perang kata-kata di podium PBB, terdapat perkembangan diplomatik yang berbeda.
Pejabat Amerika dan Iran dilaporkan mengadakan pertemuan di New York. The Guardian melaporkan pertemuan tersebut berlangsung selama sekitar tiga jam dan melibatkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi serta utusan khusus AS Steve Witkoff.
Pertemuan tersebut disebut berlangsung melalui jalur diplomatik dan melibatkan Qatar sebagai mediator.
Informasi tersebut memperlihatkan bahwa hubungan Washington dan Tehran tidak sepenuhnya berhenti pada ancaman terbuka.
Iran tetap menyampaikan syarat-syaratnya. Pemerintah Iran disebut menginginkan penghentian perang, penghentian tindakan militer AS, penghentian blokade laut, serta penyelesaian persoalan ekonomi yang berkaitan dengan aset Iran.
Di sisi lain, pemerintahan Trump tetap menempatkan isu nuklir Iran sebagai salah satu persoalan utama.
Perbedaan tuntutan tersebut menjadi salah satu hambatan terbesar dalam proses negosiasi.
Washington ingin memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, sedangkan Tehran menekankan haknya untuk menjalankan program nuklir sipil serta meminta penghentian tekanan militer dan ekonomi.
Isu Nuklir Tetap Menjadi Pokok Perselisihan
Program nuklir Iran merupakan salah satu isu utama dalam hubungan antara kedua negara.
Dalam pidatonya, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran memiliki hak untuk menjalankan program nuklir untuk tujuan damai. Ia juga menyatakan Iran tidak bermaksud membangun senjata nuklir.
Sementara itu, Trump mengatakan Amerika Serikat tidak ingin Iran memperoleh senjata nuklir.
Perbedaan posisi tersebut telah menjadi salah satu sumber utama ketegangan antara kedua negara selama bertahun-tahun.
Dalam kondisi perang, persoalan nuklir menjadi semakin sensitif karena setiap tindakan militer dan diplomatik dapat memengaruhi perhitungan keamanan kedua belah pihak.
Trump menggunakan isu tersebut untuk menjelaskan alasan kebijakan AS terhadap Tehran.
Pezeshkian menggunakan isu yang sama untuk menegaskan posisi Iran mengenai hak negara tersebut dalam bidang teknologi nuklir.
Dengan demikian, pembicaraan mengenai program nuklir kemungkinan akan tetap menjadi bagian utama jika negosiasi dilanjutkan.
Pezeshkian Soroti Tekanan dan Sanksi
Selain ancaman militer, Pezeshkian juga menyoroti sanksi yang telah diberlakukan terhadap Iran.
Menurut Presiden Iran, sanksi dan tekanan ekonomi tidak akan membuat rakyat Iran menyerah.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari narasi pemerintah Iran bahwa tekanan dari luar justru memperkuat ketahanan masyarakat.
Namun, tekanan ekonomi tetap menjadi salah satu persoalan penting bagi Iran.
The Guardian melaporkan bahwa sanksi dan blokade laut telah memberikan tekanan terhadap kemampuan Iran melakukan ekspor minyak dan memperoleh mata uang asing.
Dampak tersebut menjadi bagian dari konteks yang harus dipertimbangkan dalam memahami posisi Iran di meja perundingan.
Tehran menghadapi kebutuhan untuk mempertahankan kemampuan ekonominya sekaligus mempertahankan posisi politik dalam konflik.
Di sisi lain, Washington menggunakan tekanan ekonomi sebagai salah satu instrumen untuk memengaruhi kebijakan Iran.
Perbedaan kepentingan tersebut membuat sanksi menjadi salah satu isu yang kemungkinan akan dibahas dalam setiap proses negosiasi.
Konflik Memasuki Fase Diplomasi yang Rumit
Perkembangan di New York memperlihatkan bahwa konflik Iran dan AS memasuki situasi yang kompleks.
Ancaman militer tetap disampaikan secara terbuka. Namun, pada saat yang sama, pejabat kedua negara masih berkomunikasi.
Pezeshkian menggunakan pidato PBB untuk menolak tekanan. Trump menggunakan pidatonya untuk memperingatkan Tehran mengenai konsekuensi jika tidak ada kesepakatan.
Namun, keduanya juga menunjukkan adanya kepentingan untuk menyelesaikan persoalan melalui jalur politik.
Bagi Iran, diplomasi harus dilakukan tanpa tekanan. Bagi AS, kesepakatan harus mampu menjawab kekhawatiran mengenai program nuklir Iran.
Persoalan lainnya mencakup Selat Hormuz, sanksi, keamanan regional, dan penghentian konflik.
Semua isu tersebut saling berkaitan.
Jika salah satu persoalan tidak menemukan titik temu, proses negosiasi dapat menghadapi hambatan baru.
Karena itu, pernyataan Pezeshkian bahwa Iran tidak akan tunduk tidak serta-merta berarti semua jalur dialog ditutup.
Sebaliknya, pemerintah Iran tampak berusaha membedakan antara penolakan terhadap ancaman dan kesediaan melakukan perundingan.
Pesan Iran kepada Negara-Negara Tetangga
Pezeshkian juga memanfaatkan forum PBB untuk menyampaikan pesan kepada negara-negara di sekitar Iran.
Iran memiliki hubungan yang kompleks dengan negara-negara kawasan Teluk. Konflik dengan AS membuat hubungan tersebut menjadi semakin penting.
Tehran membutuhkan dukungan diplomatik dan ekonomi dari negara-negara tetangga. Negara-negara tersebut juga berkepentingan menjaga keamanan wilayah mereka dari dampak perang.
Pezeshkian mengatakan negara-negara tetangga bukan saingan keamanan bagi Iran.
Pesan tersebut menunjukkan keinginan Tehran untuk membangun kerangka keamanan regional.
Dalam pandangan yang disampaikan Pezeshkian, keamanan Timur Tengah tidak harus sepenuhnya bergantung pada kekuatan luar kawasan.
Pernyataan itu sekaligus menjadi bagian dari upaya Iran menjelaskan posisinya terkait Selat Hormuz.
Iran ingin mempertahankan kontrol atas kepentingan keamanannya, tetapi juga menyatakan terbuka terhadap kerja sama dengan negara-negara tetangga.
Bagi negara-negara di kawasan, persoalan tersebut penting karena mereka berada di sekitar jalur perdagangan dan energi yang terdampak langsung oleh konflik.
Ancaman Trump Mendapat Tanggapan Langsung
Pezeshkian tidak menyebut seluruh bagian pidatonya sebagai tanggapan langsung terhadap Trump. Namun, waktu dan isi pernyataannya memperlihatkan respons yang jelas terhadap ancaman presiden AS tersebut.
Trump sebelumnya mengatakan pilihannya adalah kesepakatan atau penghancuran Republik Islam.
Pezeshkian kemudian menyampaikan bahwa rakyat Iran tidak akan bertekuk lutut.
Dua pernyataan tersebut menggambarkan perbedaan pendekatan yang sangat tajam.
Washington menggunakan ancaman tekanan maksimum untuk mendorong Tehran memenuhi tuntutan tertentu.
Tehran berusaha menunjukkan bahwa tekanan tersebut tidak akan menghasilkan penyerahan diri.
Namun, di belakang pernyataan publik tersebut, kedua pihak masih memiliki saluran diplomatik.
Reuters melaporkan Pezeshkian tetap membuka kemungkinan diplomasi meski menolak tekanan.
Hal tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dari rangkaian pertemuan di New York.
Peran Qatar dalam Komunikasi Kedua Negara
Dalam perkembangan diplomatik terbaru, Qatar disebut berperan sebagai perantara komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Menurut laporan The Guardian, Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan interaksi dengan pihak AS berlangsung melalui mediasi Qatar. Tehran menggunakan saluran tersebut untuk menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Washington.
Peran mediator menjadi penting karena hubungan langsung antara Iran dan AS berada dalam kondisi sangat tegang.
Melalui pihak ketiga, kedua pemerintah dapat menyampaikan pesan tanpa harus langsung mengubah posisi publik mereka.
Model komunikasi seperti ini juga memberikan ruang bagi kedua pihak untuk mengeksplorasi kemungkinan kesepakatan.
Namun, keberadaan komunikasi tidak otomatis berarti kesepakatan telah tercapai.
Masih terdapat perbedaan mendasar mengenai perang, sanksi, blokade laut, Selat Hormuz, dan program nuklir.
Karena itu, pertemuan yang berlangsung di sela-sela Sidang Umum PBB baru menjadi bagian dari proses diplomasi yang lebih panjang.
Iran Disebut Memiliki Sejumlah Syarat
Pemerintah Iran menyampaikan bahwa mereka memiliki sejumlah persyaratan sebelum pembicaraan dapat berkembang lebih jauh.
Menurut keterangan yang dikutip The Guardian, Iran meminta penghentian perang dalam seluruh dimensinya, penghentian tindakan agresif AS, penghentian blokade laut, serta penyelesaian persoalan aset Iran.
Syarat tersebut memperlihatkan bahwa Tehran tidak melihat isu nuklir sebagai satu-satunya persoalan dalam konflik.
Bagi Iran, keamanan nasional, ekonomi, akses laut, dan tindakan militer juga harus menjadi bagian dari pembahasan.
Sementara itu, pemerintahan Trump tetap menekankan isu nuklir.
Perbedaan agenda tersebut membuat perundingan menjadi rumit.
Satu pihak berusaha mendapatkan jaminan mengenai program nuklir. Pihak lainnya menginginkan penghentian tekanan militer dan ekonomi sebelum membuat konsesi lebih lanjut.
Pertemuan di New York menjadi kesempatan bagi kedua pihak untuk menyampaikan posisi masing-masing.
Hasil akhirnya masih bergantung pada kemampuan mereka menemukan titik temu mengenai persoalan-persoalan tersebut.
Masa Depan Selat Hormuz Masih Menjadi Perhatian
Salah satu isu yang kemungkinan terus menjadi perhatian adalah masa depan Selat Hormuz.
The Guardian melaporkan Iran memberikan sinyal bahwa pembukaan kembali jalur tersebut dapat dilakukan dalam kondisi tertentu jika sejumlah persyaratan Tehran dipenuhi.
Jika jalur tersebut kembali lebih terbuka, dampaknya dapat dirasakan dalam perdagangan energi internasional.
Namun, Iran ingin memastikan bahwa penggunaan jalur tersebut tidak dimanfaatkan untuk kepentingan yang dianggap membahayakan keamanan negaranya.
Pezeshkian menyampaikan keberatan terhadap kondisi ketika pihak lain dapat menggunakan jalur tersebut sekaligus menjadikannya bagian dari tindakan terhadap Iran.
Posisi tersebut menunjukkan bahwa isu navigasi dan keamanan akan menjadi bagian penting dalam negosiasi.
Bagi negara-negara pengguna jalur tersebut, kepastian akses menjadi faktor utama.
Bagi Iran, kontrol dan keamanan nasional menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting.
Perbedaan kepentingan tersebut perlu diselesaikan jika stabilitas pelayaran di kawasan ingin dipulihkan.
Perang Iran dan Dampaknya ke Kawasan
Konflik Iran dan AS tidak hanya melibatkan dua negara.
Perkembangan perang telah berdampak terhadap negara-negara di Timur Tengah, jalur pelayaran, perdagangan energi, dan hubungan diplomatik.
AP melaporkan bahwa situasi di Selat Hormuz masih menghadirkan risiko bagi kapal yang melintas.
Negara-negara di sekitar Teluk juga memiliki kepentingan untuk mencegah konflik berkembang lebih luas.
Pezeshkian mencoba menyampaikan bahwa Iran tidak menganggap negara-negara tetangganya sebagai lawan keamanan.
Pesan tersebut dapat dibaca sebagai upaya membuka ruang kerja sama regional.
Namun, kondisi keamanan tetap bergantung pada perkembangan konflik dengan AS serta aktivitas militer pihak-pihak yang terlibat.
Setiap serangan baru dapat meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran dan fasilitas energi.
Sebaliknya, kemajuan diplomasi dapat membuka peluang untuk menurunkan ketegangan.
Karena itu, pidato Pezeshkian tidak hanya ditujukan kepada Trump. Pesan tersebut juga diarahkan kepada negara-negara yang memiliki kepentingan langsung terhadap keamanan Timur Tengah.
PBB Menjadi Panggung Diplomasi Iran dan AS
Sidang Umum PBB tahun ini menjadi salah satu panggung penting bagi kedua pihak untuk menyampaikan posisi mereka kepada komunitas internasional.
Trump berbicara pada 22 September. Pezeshkian menyampaikan pidatonya sehari kemudian.
Keduanya datang ketika perang telah berlangsung berbulan-bulan dan isu Iran menjadi salah satu agenda utama pertemuan para pemimpin dunia.
Kehadiran Pezeshkian sendiri sebelumnya sempat menjadi perhatian karena persoalan izin masuk ke Amerika Serikat. Pada akhirnya, pemerintah AS mengizinkan Presiden Iran menghadiri Sidang Umum PBB.
Kehadiran tersebut memberikan kesempatan bagi Tehran untuk menyampaikan langsung posisi Iran kepada negara-negara anggota PBB.
Pezeshkian menggunakan kesempatan itu untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan AS sekaligus menjelaskan sikap Iran mengenai keamanan kawasan.
Sementara Trump menggunakan pidatonya untuk mempertahankan kebijakan pemerintahannya terhadap Iran.
Dengan demikian, forum PBB menjadi tempat berlangsungnya diplomasi publik kedua negara.
Pidato Pezeshkian Tidak Hanya Berisi Penolakan
Meskipun pemberitaan mengenai pidato Pezeshkian banyak menyoroti pernyataan bahwa Iran tidak akan bertekuk lutut, isi pidatonya juga memuat pesan mengenai diplomasi.
Hal tersebut penting untuk dicatat karena sikap keras terhadap tekanan tidak selalu berarti penolakan terhadap semua bentuk negosiasi.
Pezeshkian secara terbuka mengatakan Iran siap berdialog dan bernegosiasi.
Syaratnya, menurut posisi yang disampaikannya, dialog tersebut tidak dilakukan dengan ancaman atau penggunaan kekuatan.
Pemerintah Iran juga menyampaikan kepentingan mengenai program nuklir sipil dan keamanan regional.
Dengan demikian, Tehran berusaha mempertahankan dua posisi sekaligus.
Pertama, mempertahankan sikap bahwa Iran tidak akan menyerah akibat tekanan.
Kedua, menjaga jalur diplomatik agar tetap terbuka.
Kedua posisi tersebut dapat berjalan bersamaan selama masing-masing pihak masih melihat negosiasi sebagai salah satu pilihan.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada apakah Washington dan Tehran mampu mengubah komunikasi tersebut menjadi kesepakatan konkret.
Perbedaan Narasi Washington dan Tehran
Washington dan Tehran memiliki narasi berbeda mengenai akar persoalan konflik.
Pemerintahan Trump menekankan ancaman program nuklir Iran serta kebutuhan mencegah Tehran memiliki senjata nuklir.
Iran menolak tuduhan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk membuat senjata dan menekankan hak untuk menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Perbedaan narasi tersebut telah menjadi salah satu bagian paling sulit dalam hubungan kedua negara.
Ketika perang berlangsung, persoalan tersebut menjadi semakin sensitif.
Setiap pernyataan mengenai program nuklir dapat memengaruhi keputusan militer maupun diplomatik.
Karena itu, jika negosiasi kembali berlangsung, verifikasi dan jaminan mengenai aktivitas nuklir kemungkinan akan menjadi persoalan penting.
Namun, dari pidato Pezeshkian terlihat bahwa Iran ingin pembahasan diperluas ke persoalan keamanan regional dan tekanan ekonomi.
Washington, di sisi lain, ingin memastikan tuntutan terkait nuklir menjadi bagian utama dari kesepakatan.
Ketegangan Masih Berlangsung di Tengah Diplomasi
Perkembangan di PBB menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu berarti ketegangan langsung berakhir.
Kedua negara masih menggunakan bahasa keras di depan publik.
Trump tetap mempertahankan ancaman tindakan ekstrem jika tidak tercapai kesepakatan.
Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan menyerah.
Namun, pembicaraan melalui jalur diplomatik tetap berlangsung.
Situasi seperti ini membuat perkembangan konflik sulit diprediksi hanya berdasarkan satu pidato.
Pernyataan publik dapat digunakan untuk memperkuat posisi tawar masing-masing pemerintah.
Pada saat yang sama, negosiator dapat membicarakan persoalan secara lebih rinci di balik layar.
Karena itu, perhatian internasional kini tidak hanya tertuju pada pernyataan Trump dan Pezeshkian, tetapi juga pada perkembangan pembicaraan antara pejabat kedua negara.
Jika komunikasi berlanjut, isu yang dibahas kemungkinan mencakup penghentian perang, sanksi, program nuklir, Selat Hormuz, dan keamanan regional.
Dampak Ekonomi Menjadi Persoalan Tambahan
Selain keamanan, konflik juga memberikan tekanan ekonomi.
Salah satu perhatian terbesar adalah perdagangan energi.
Ketika lalu lintas melalui Selat Hormuz terganggu, pasar global harus memperhitungkan risiko terhadap pasokan minyak dan produk energi lainnya.
Trump sendiri mengaitkan kebijakan terhadap Iran dengan harga energi dunia dalam pidatonya di PBB. Ia menyerukan isolasi ekonomi terhadap Tehran dan berbicara mengenai kemungkinan harga minyak turun apabila konflik dan tekanan terhadap Iran berkembang sesuai kebijakan AS.
Di sisi Iran, tekanan ekonomi menjadi persoalan domestik yang harus dihadapi pemerintah.
Sanksi dapat membatasi kemampuan perdagangan dan akses terhadap mata uang asing.
Karena itu, pembahasan ekonomi hampir pasti berkaitan erat dengan pembahasan keamanan.
Iran dapat menginginkan pengurangan sanksi sebagai bagian dari kesepakatan. AS dapat menginginkan konsesi tertentu sebagai imbalan atas perubahan kebijakan ekonomi.
Titik temu mengenai persoalan tersebut akan menjadi bagian penting dari proses diplomasi.
Respons Pezeshkian Menegaskan Posisi Tehran
Pezeshkian menggunakan panggung PBB untuk menyampaikan posisi Iran dengan jelas.
Pesan utamanya adalah bahwa tekanan tidak akan membuat Tehran menyerah.
Namun, ia juga menyampaikan bahwa Iran tidak menutup pintu diplomasi.
Kombinasi kedua pesan tersebut menjadi ciri utama pidato Pezeshkian.
Presiden Iran berusaha menunjukkan ketegasan kepada Washington sekaligus memberikan sinyal kepada negara-negara lain bahwa Tehran masih bersedia membahas penyelesaian konflik.
Reuters menyebut Pezeshkian menuduh Trump memiliki pola pikir intimidasi, tetapi tetap menyatakan keyakinan bahwa diplomasi dapat digunakan untuk mengakhiri konflik.
Sikap tersebut membuat pidatonya tidak hanya menjadi respons terhadap ancaman Trump.
Pidato itu juga menjadi kesempatan untuk memaparkan posisi Iran mengenai masa depan keamanan kawasan.
Iran ingin agar negara-negara tetangga terlibat dalam pengaturan keamanan kawasan dan tidak melihat mereka sebagai musuh.
Apa yang Terjadi Setelah Pidato PBB?
Setelah kedua pemimpin menyampaikan pidato, perhatian selanjutnya beralih kepada proses negosiasi.
Pertemuan antara pejabat AS dan Iran yang berlangsung di sela-sela Sidang Umum PBB menjadi salah satu perkembangan penting.
Namun, belum ada kesepakatan final yang diumumkan.
Kedua pihak masih memiliki perbedaan mengenai berbagai isu.
Amerika Serikat ingin memastikan persoalan nuklir Iran dapat diselesaikan sesuai tuntutan Washington.
Iran ingin perang dihentikan dan tekanan militer serta ekonomi dikurangi.
Selat Hormuz juga menjadi persoalan karena berkaitan dengan keamanan Iran sekaligus kepentingan perdagangan internasional.
Di tengah perbedaan tersebut, Qatar disebut membantu menjadi perantara komunikasi.
Peran negara mediator dapat menjadi penting jika Washington dan Tehran ingin mempertahankan dialog tanpa harus mengurangi posisi publik masing-masing.
Perkembangan berikutnya akan menunjukkan apakah komunikasi tersebut dapat menghasilkan kesepakatan atau hanya menjadi bagian dari pertukaran posisi diplomatik.
Ancaman dan Diplomasi Berjalan Bersamaan
Peristiwa di PBB memperlihatkan bagaimana konflik internasional dapat berlangsung melalui dua jalur sekaligus.
Jalur pertama adalah tekanan terbuka melalui pidato, sanksi, dan ancaman militer.
Jalur kedua adalah komunikasi diplomatik melalui pertemuan dan mediator.
Trump menggunakan bahasa yang sangat keras ketika membahas kemungkinan tindakan terhadap Iran.
Pezeshkian membalas dengan mengatakan Iran tidak akan bertekuk lutut.
Namun, pejabat kedua negara tetap bertemu untuk membicarakan kemungkinan penyelesaian.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pernyataan publik dan diplomasi tertutup dapat memiliki fungsi yang berbeda.
Pernyataan publik dapat ditujukan kepada masyarakat domestik, sekutu, dan lawan.
Diplomasi tertutup memberikan ruang untuk membahas kompromi tanpa harus segera diumumkan kepada publik.
Karena itu, perkembangan konflik selanjutnya tidak cukup hanya dipantau melalui pernyataan para pemimpin.
Hasil pertemuan para diplomat dan perubahan kondisi di lapangan juga akan menjadi faktor penting.
Posisi Iran terhadap Keamanan Regional
Pezeshkian berusaha menempatkan Iran sebagai bagian dari sistem keamanan regional, bukan hanya sebagai negara yang berhadapan dengan AS.
Ia mengatakan negara-negara tetangga bukan saingan keamanan bagi Iran.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Tehran ingin membangun mekanisme keamanan yang melibatkan negara-negara kawasan.
Bagi Iran, pendekatan tersebut juga berkaitan dengan Selat Hormuz.
Jalur itu berada di kawasan yang melibatkan sejumlah negara Teluk dan memiliki kepentingan langsung terhadap keamanan pelayaran.
Jika keamanan kawasan ingin dipulihkan, diperlukan pengaturan yang dapat diterima oleh negara-negara yang menggunakan jalur tersebut.
Namun, masih terdapat perbedaan pandangan mengenai siapa yang memiliki tanggung jawab utama dalam menjaga keamanan.
AS selama ini memiliki peran besar dalam keamanan kawasan. Iran justru menekankan pentingnya peran negara-negara regional.
Perbedaan tersebut dapat menjadi salah satu persoalan jangka panjang yang harus dibahas setelah konflik berakhir.
Pezeshkian Membawa Pesan untuk Dunia Internasional
Selain berbicara kepada Trump, Pezeshkian juga berbicara kepada komunitas internasional.
Ia ingin menunjukkan bahwa Iran melihat dirinya sebagai pihak yang menghadapi tekanan dari kekuatan luar.
Pezeshkian juga mengkritik kebijakan yang menurut Iran tidak memberikan perlakuan yang sama kepada semua negara.
Dalam pidatonya, ia menyoroti tindakan Israel dan mempertanyakan perbedaan respons internasional terhadap Israel dan Iran. Laporan The Guardian mencatat bahwa Pezeshkian menggunakan isu tersebut untuk menyampaikan kritik terhadap sanksi yang dijatuhkan kepada Iran.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari upaya Tehran membentuk narasi internasional mengenai konflik.
Bagi pemerintah Iran, dukungan diplomatik internasional dapat menjadi faktor penting dalam menghadapi tekanan AS.
Sementara itu, Washington juga berusaha mendapatkan dukungan negara lain terhadap kebijakan tekanannya terhadap Tehran.
Karena itu, forum PBB bukan hanya tempat pertukaran pidato. Forum tersebut juga menjadi arena diplomasi untuk mendapatkan dukungan negara-negara lain.
Konflik Masih Menyisakan Banyak Persoalan
Pernyataan Pezeshkian dan Trump belum menyelesaikan persoalan yang menjadi akar konflik.
Program nuklir masih menjadi isu utama.
Sanksi ekonomi masih menjadi alat tekanan.
Selat Hormuz masih menghadapi persoalan keamanan.
Perang masih memberikan dampak terhadap kawasan.
Dan kedua pemerintah masih memiliki tuntutan yang berbeda.
Dalam situasi seperti itu, setiap pertemuan diplomatik dapat menjadi penting.
Namun, pertemuan saja belum cukup untuk mengakhiri konflik.
Diperlukan kesepakatan mengenai isu-isu utama yang dapat diterima kedua pihak.
Pezeshkian telah menyatakan bahwa Iran siap berdialog. Trump juga mengatakan kesepakatan dengan Iran masih menjadi salah satu pilihan yang tersedia.
Artinya, meskipun bahasa yang digunakan kedua pemimpin sangat keras, jalur negosiasi belum sepenuhnya tertutup.
Perkembangan setelah Sidang Umum PBB akan menjadi penting untuk melihat apakah komunikasi tersebut berkembang menjadi proses diplomasi yang lebih konkret.
Pesan Utama dari Pidato Pezeshkian
Pezeshkian balas Trump dengan pesan yang cukup jelas: Iran tidak akan tunduk terhadap ancaman dan tekanan, tetapi Tehran masih membuka ruang untuk diplomasi.
Ia menolak gagasan bahwa Iran dapat dipaksa menyerah melalui ancaman.
Ia juga menegaskan kepentingan Iran di Selat Hormuz.
Pada saat yang sama, ia menyatakan negara-negara tetangga bukan pesaing keamanan dan membuka kemungkinan kerja sama regional.
Posisi tersebut memperlihatkan bahwa Tehran berusaha mempertahankan sikap keras terhadap Washington tanpa sepenuhnya menutup jalur negosiasi.
Trump, sehari sebelumnya, menyampaikan bahwa AS menghadapi pilihan antara mencapai kesepakatan dengan Iran atau mengambil tindakan yang jauh lebih keras.
Dengan demikian, kedua pemimpin kini telah menyampaikan posisi mereka secara terbuka di forum internasional.
Langkah selanjutnya akan bergantung pada pertemuan diplomatik dan perkembangan di lapangan.
Baca Juga : Empat Gunung Api Erupsi Hampir Bersamaan, Badan Geologi Ungkap Penyebabnya
Dunia Menunggu Arah Perundingan Iran dan AS
Setelah rangkaian pidato di PBB, perhatian internasional tertuju pada arah hubungan Iran dan Amerika Serikat.
Ancaman yang disampaikan Trump dan penolakan Pezeshkian menunjukkan bahwa perbedaan antara Washington dan Tehran masih sangat besar.
Namun, laporan mengenai pertemuan pejabat kedua negara menunjukkan bahwa komunikasi tetap berlangsung.
Pezeshkian mengatakan Iran siap berdialog tanpa bahasa kekuatan. Pemerintah Iran juga telah menyampaikan sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan perang, sanksi, blokade laut, dan aset Iran.
Di sisi lain, Trump tetap menempatkan isu nuklir sebagai salah satu alasan utama kebijakan AS terhadap Iran.
Selat Hormuz menjadi persoalan tambahan karena menyangkut keamanan Iran sekaligus jalur perdagangan energi internasional.
Karena itu, penyelesaian konflik membutuhkan pembahasan yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan antara dua pemimpin.
Pernyataan Pezeshkian di PBB menegaskan bahwa Tehran tidak ingin dipaksa menyerah.
Namun, pintu dialog juga belum ditutup.
Situasi tersebut membuat perkembangan diplomasi dalam beberapa hari dan pekan berikutnya menjadi penting untuk melihat apakah ancaman dan tekanan dapat bergeser menuju pembicaraan yang lebih konkret.
Untuk saat ini, pesan Pezeshkian kepada Trump dan dunia internasional tetap sama: Iran menolak bertekuk lutut, tetapi masih menyatakan kesiapan untuk mencari jalan keluar melalui diplomasi.
