liputanmedia.id – Kemiskinan ekstrem di Indonesia masih menjadi masalah serius. Pada Maret 2025, sebanyak 2,38 juta orang hidup dalam kondisi sangat miskin. Mereka kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan air bersih.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah ini sedikit menurun dibanding tahun lalu. Namun, kemiskinan ekstrem di Indonesia tetap menunjukkan ketimpangan sosial yang tinggi. Pemerintah pun masih berusaha menurunkan angka ini dengan berbagai program bantuan.
Siapa yang Paling Rentan?
Orang yang tinggal di desa atau daerah terpencil paling rentan terkena kemiskinan ekstrem. Selain itu, mereka yang bekerja di sektor informal atau tidak punya pendidikan tinggi juga berisiko besar.
Anak-anak dari keluarga miskin ekstrem sering mengalami gizi buruk dan kesulitan sekolah. Akibatnya, mereka sulit keluar dari lingkaran kemiskinan.
Apa Saja Tantangannya?
Pemerintah sudah memberi bantuan seperti PKH, BLT, dan subsidi pangan. Tapi, penyaluran bantuan kadang tidak merata. Masalah data dan akses di daerah terpencil juga menjadi hambatan.
Selain itu, harga pangan yang naik dan perubahan iklim ikut memperburuk situasi. Oleh karena itu, upaya pemerintah perlu didukung semua pihak.
Solusi yang Bisa Dijalankan
Untuk mengurangi kemiskinan ekstrem di Indonesia, dibutuhkan strategi jangka panjang. Beberapa langkah penting antara lain:
- Meningkatkan akses pendidikan dan pelatihan kerja
- Membangun infrastruktur di desa-desa tertinggal
- Memastikan bantuan tepat sasaran dengan sistem digital
- Mendukung UMKM agar menciptakan lebih banyak pekerjaan
Selain itu, kerja sama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sangat penting.
Kesimpulan
Kemiskinan ekstrem di Indonesia menyentuh 2,38 juta jiwa pada 2025. Ini menjadi pengingat bahwa masih banyak warga yang butuh bantuan nyata. Dengan langkah tepat dan kerja sama semua pihak, Indonesia bisa mengatasi masalah ini.
📌 Baca Juga : Prediksi Mengejutkan: XRP Bisa Capai $10 Jika Bitcoin Menembus $144.000
